Kingdom Qualified Generation

(Pdt.Eluzai Frengky Utana,MPM)

Kalau kita membaca Matius 8 : 5-13, kita bisa melihat tentang kisah seorang yang sangat luar biasa. Ia adalah seorang perwira di Kapernaum. Bahkan Yesus sendiri mengatakan rasa bangganya dengan mengatakan bahwa iman sebesar ini, yang dimiliki oleh perwira itu belum pernah dijumpai Yesus sebelumnya. Dan iman yang ditunjukkan oleh perwira itu mendatangkan mukjizat. Yesus menyembuhkan hambanya yang sedang sakit.

Dari sini kita bisa melihat bahwa perwira tersebut memiliki sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya. Ia memiliki kehidupan yang berkualitas. Dan melalui kehidupannya pun, ia menjadi berkat bagi orang lain. Itulah yang Tuhan harapkan dalam hidup kita. Ada anak-anak-Nya yang memiliki kualitas kehidupan yang bisa memberkati orang lain. Allah rindu melihat generasi yang berkualitas sehingga kita benar-benar menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia ini.

Generasi yang berkualitas Kerajaan Allah adalah generasi yang meninggikan Allah dalam hidupnya. Lalu apa saja yang perlu kita lakukan supaya kita bisa memiliki dan membangun kehidupan yang berkualitas di dalam hidup kita?

1. Menghargai, menghormati, serta tunduk pada otoritas tertinggi.                                                                           “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata pada salah seorang prajurit itu: Pergi! Maka ia akan pergi…( Mat 8:9) 

Tuhan Yesus adalah otoritas tertinggi. Untuk meninggikan Dia, tidak cukup dengan kata-kata tetapi tindakan dan perilaku kita juga harus menunjukkan bahwa kita meninggikan Dia. Belajar untuk menghormati dan tunduk pada otoritas harus kita mulai dari kehidupan sehari-hari. Karena itulah Allah juga memberikan pola bagaimana dalam setiap tatanan kehidupan memiliki otoritasnya. Dalam keluarga misalnya ada orang tua, suami dan isteri. Di gereja sendiri, ada gembala atau penatua, dan sebagainya. Bila kita tidak tunduk pada otoritas yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, maka tindakan kita bukan meninggikan Tuhan tapi itu sama saja kita  merendahkan Tuhan.

Jika kita berbicara tentang kerajaan Allah, maka itu bukanlah hal yang muluk-muluk tetapi justru tentang praktik kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan, bertindak sesuai prinsip firman Tuhan, maka kita bisa meninggikan Tuhan.

2. Percaya Kuasa Perkataan.                                                                                                                                                                         ….. “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku ini akan sembuh.    ( Mat 8: 8 )

Perwira yang datang pada Yesus sangat percaya pada perkataan dari Tuhan Yesus yang penuh dengan kuasa. Demikian juga kita harus percaya dengan kuasa perkataan yang tertulis dalam Alkitab. Selain kita perlu mempercayai perkataan Tuhan seratus persen, kita juga perlu menjaga setiap perkataan kita. Kita wajib menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak kerajaan Allah yang  tidak suka mengeluh, tidak bersungut-sungut, dan harus selalu menepati setiap perkataan yang kita ucapkan. Satu hal yang perlu kita ingat adalah, kejujuran tidak bisa dibayar dengan apapun. Kejujuran hanya bisa dibayar dengan cara menepatinya.

3. Bersedia direndahkan.  
Tanpa memperdulikan apa kata orang, perwira itu datang pada Yesus dan memohon. Jika ia melihat pangkat dan kedudukannya, ia memiliki pangkat dan jabatan yang tinggi tetapi ia memiliki kerendahan hati untuk datang pada Yesus. Ia juga menyingkirkan anggapan orang lain yang mungkin merendahkannya.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin pernah atau sedang mengalami hal ini. Ketika kita merasa direndahkan orang lain, hal itu bisa mengintimidasi kita. Tetapi tahukah kita bahwa melalui semuanya itu kita bisa melihatnya sebagai penambah gizi atau vitamin supaya kehidupan kita makin kuat, kokoh dan memiliki hidup yang lebih berkualitas karena kita bisa menyikapinya dengan benar. Namun, tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Namun setidaknya ada dua hal yang bisa kita lakukan, yaitu melupakan perbuatan baik yang kita lakukan untuk orang lain, dan melupakan kesalahan yang orang lain perbuat dalam hidup kita.

4. Bagaimana memperlakukan orang lain yang tidak dapat memberikan apa-apa pada kita. (Lukas 7:2)                                                                                                                                                                                                                              Hamba perwira ini adalah orang yang bergantung  sepenuhnya pada dia. Tapi perwira ini memperlakukan dia dengan sangat baik. Ada banyak orang disekitar kita yang tidak dapat memberikan apa-apa pada kita, sikap kita dalam memperlakukan mereka akan menunjukkan kualitas hidup kita. Dengan perlakuan yang baik maka orang akan melihat Yesus itu hidup dan berkuasa dalam hidup kita. 

5. Bagaimana memperlakukan orang-orang yang tidak dapat melawan kita.                                                      Orang yang tidak dapat melawan kita adalah orang-orang yang merupakan bawahan kita. Bisa saja mereka adalah pegawai, pembantu rumah tangga maupun mereka yang dipercayakan Tuhan sebagai orang-orang yang mendukung kita. Sikap hati yang menganggap kita adalah merupakan suatu tim kerja dan saling menghargai sangat diperlukan untuk dapat memperlakukan orang lain dengan baik.  Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:49 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Values Driven Life

(Pdp.Dr.Ir.Bob Foster,MM)

Nilai adalah sesuatu yang mendasari hidup kita. Artinya hidup yang kita jalani setiap hari adalah hidup yang didasarkan oleh nilai-nilai yang kita percaya benar dan hidup kita digerakkan oleh nilai-nilai yang kita percayai tersebut. Misalnya, bila kita anggap “bohong-bohong kecil” itu boleh dilakukan maka kita akan sering melakukannya tanpa rasa bersalah.

Jika kita membaca dalam I Korintus 3 : 10-15a, kita bisa melihat bahwa setiap orang harus membangun kehidupannya. Dan apa yang digunakan dalam membangun hidupnya tergantung pada keputusan yang ia ambil. Apakah ia membangun dengan bahan yang berkualitas seperti emas, perak dan permata atau menggunakan bahan yang murahan seperti kayu, rumput dan jerami. Satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan akan diuji dan hasilnya akan segera nampak. Bila kita membangun dengan bahan yang berkualitas, maka bangunan itu akan tetap berdiri kokoh ketika badai datang. Tetapi bila kita membangun dengan bahan yang  murahan maka bila menghadapi persoalan  hidup, bangunan itu akan segera hancur.

Nilai tidak tergantung pada penampilan luar tetapi sangat ditentukan oleh kualitas seseorang, terutama kualitas hatinya. Manusia sering menilai orang lain berdasarkan penampilan luarnya, seperti pakaian yang ia kenakan, mobil yang ia pakai, rumah yang ia miliki dll. Hal itu hanya penampilan luar. Tetapi Allah menilai  manusia dari hatinya, adakah hatinya berkenan kepada Allah atau tidak.

Seperti  Emas, perak dan permata yang mengalami berbagai proses ditekan, dibakar, dimurnikan, begitu juga dengan hidup kita yang harus diproses untuk menghasilkan karakter yang unggul. Tidak ada kehidupan rumah tangga, bisnis, pekerjaan, sekolah, yang akan berjalan dengan baik bila kita tidak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membuatnya  berjalan dengan baik. Orang yang berhasil adalah orang yang menjalani hidupnya berdasarkan nilai-nilai yang mulia dalam hidupnya.

Ketika kita memiliki nilai-nilai yang benar dalam hidup kita, maka hal itu akan sangat bermanfaat dalam hidup kita, yaitu :
 
1. Nilai akan mempersatukan. (Kolose 2:14)                                                                                                                              Ibarat minyak dan air, setiap orang yang memiliki nilai-nilai yang berbeda akan sulit dipersatukan. Namun sebaliknya, bila kita memiliki nilai-nilai yang sama maka akan mudah untuk bersatu. Maka penting untuk memiliki persamaan nilai dalam hidup berkeluarga antara orang tua dengan anak, antara suami dengan istri harus memiliki nilai-nilai yang sama. Kini saatnya kita menanamkan nilai-nilai yang baik dalam keluarga kita, Yesus Kristus adalah dasar dari keluarga yang kita bentuk, dan  karena Allah itu adalah kasih maka kita membangun keluarga kita di atas nilai-nilai dari kasih Allah tersebut.

Bila dalam satu keluarga terdapat nilai-nilai yang berbeda maka komunikasi antara anggota keluarga tersebut akan terhambat. Anak akan merasa tidak betah ngobrol dengan orang tuanya karena nilai yang dianut  berbeda dengan orang tuanya. Bila suami isteri sering bertengkar itu lebih sering disebabkan oleh karena nilai yang berbeda yang dimiliki oleh pasangan tersebut. Karena itu kita perlu untuk menanamkan nilai yang sama dalam keluarga agar keluarga yang kita bentuk dapat bersatu.

2.Nilai akan memberikan identitas diri. (Kejadian 1:26-28)                                                                                              Allah telah memberikan identitas yang sempurna untuk kita, yaitu kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Lebih lagi bagi setiap orang percaya, Allah telah menempatkan Roh-Nya yang kudus tinggal dalam diri kita sehingga seharusnya gambar Kristus harus nyata dalam kehidupan kita.

Status kita adalah Anak-anak Raja di atas segala raja, sehingga tidaklah layak bila perilaku dan tindakan kita tidak sesuai dengan identitas yang kita miliki. Sudah seharusnya bila nilai nilai kehidupan kita mencerminkan identitas kita ini. Nilai-nilai humality (kerendahan hati), integrity (integritas), truth (kebenaran) harus nyata dalam hidup kita sehari-hari.

3. Nilai akan membantu kita dalam mengambil keputusan yang benar. (Amsal 11:3)                               Setiap kita pasti memiliki dasar yang kita gunakan untuk mengambil setiap keputusan. Dan biarlah dasar yang kita gunakan itu adalah nilai-nilai kebenaran Kerajaan Allah. Dalam bertindak dan mengambil keputusan, nilai-nilai kebenaran Kerajaan Allah akan sangat membantu kita. Juga keputusan yang kita ambil hari ini akan berpengaruh untuk masa depan kita. Karena itu kita perlu untuk mengambil keputusan sesuai dengan nilai-nilai kebenaran Kerajaan Allah.

4. Memberi ketahanan terhadap tekanan. (Filipi 4:13)                                                                                                          Dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup, kita mendapat kekuatan baru karena kita sadar bahwa Tuhan Yesus hidup di dalam kita. Kalaupun ada kesengsaraan, itu akan membuat ketekunan kita bertambah dan selanjutnya akan membuat kita menjadi tahan uji. Karena semuanya itu hanyalah bagian dari proses. Yang terpenting adalah kita terus bertekun menjalankan nilai-nilai  kebenaran Firman Tuhan.

Ketika kita telah tahan uji maka kita siap untuk dipakai Tuhan untuk menjadi perabot yang mulia, yang dipakai untuk kemuliaan nama-Nya. Seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 2:20-21, “Didalam rumah yang besar …perabot  dari emas dan perak, untuk maksud yang mulia ….” Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:46 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Menang Dalam Perjalanan Kehidupan

(Pdt.Ir.Timotius Arifin T.,DPM)

“Kisah perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir adalah sebuah drama kehidupan yang sangat spektakuler. Bagaimana tidak, seluruh bangsa Israel berbondong-bondong keluar dari tanah Mesir menuju sebuah negeri perjanjian, negeri yang dijanjikan Tuhan atas mereka. Selama 40 tahun mereka melewati berbagai medan perjalanan yang menantang. Kadang melewati gunung, padang gurun, menyeberangi lautan dan berjalan dalam lembah. Belum lagi peperangan demi peperangan yang harus mereka hadapi. Tetapi di dalam semuanya itu, Tuhan senantiasa menyertai mereka dan menunjukkan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar dan ajaib dalam hidup mereka.

Salah satu babak dalam perjalanan bangsa Israel adalah saat mereka berada di Rafidim (Keluaran 17:1-15). Di sana, mereka tidak menemukan air untuk diminum sehinga mereka bertengkar dengan Musa. Mereka bersungut-sungut dan menyalahkan Musa karena membawa mereka keluar dari tanah Mesir dan mereka pun meragukan penyertaan Tuhan atas mereka. Dan Tuhan kembali memberikan mukjizat bagi mereka. Air keluar dari gunung batu setelah Musa memukulkan tongkatnya di gunung batu itu. Masih di Rafidim, lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel. Yosua pun berperang menghadapi mereka. Berikutnya yang terjadi adalah ketika Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel dan supaya Musa terus bisa maengangkat tangannya, Harun dan Hur menopang tangan Musa sampai bangsa Amalek dikalahkan oleh Yosua dan pasukannya.

Kisah perjalanan bangsa Israel tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita saat ini. Allah telah memanggil kita keluar dari perbudakan dosa dan membawa kita memasuki tanah perjanjian. Seperti bangsa Israel, tujuan Allah memanggil bangsa Israel keluar dari tanah Mesir bukan sekadar membawa mereka memasuki tanah perjanjian, melainkan Tuhan rindu membawa mereka datang kepada diri-Nya sendiri, menjadikan kita menjadi harta kesayangan-Nya, kerajaan imam serta menjadikan kita sebagai bangsa yang kudus (Keluaran 19 : 4-6).

Kita melihat, bahwa hidup kita adalah sebuah perjalanan. Perjalanan panjang yang melewati berbagai medan. Ada kalanya kita melintasi gunung-gunung dan bukit yang berbunga atau kehidupan yang penuh berkat dan hidup berkemenangan, tetapi kadang juga kita melewati lembah penuh derita dan air mata. Dan ketika kita berada dalam lembah, ada bahaya yang mengancam. Ada musuh yang siap menyerang kita, yaitu bangsa Amalek. Siapa bangsa Amalek? Bangsa Amalek adalah bangsa yang tinggal di lembah dan mereka siap menyerang orang-orang yang ada di lembah. Amalek juga gambaran kedagingan atau keakuan kita. Jadi kita perlu waspada dan berhati-hati jika saat ini berada dalam lembah.

Siapa saja yang bisa diserang oleh Amalek? Berdasarkan Ulangan 25 : 18-19, setidaknya ada 4 golongan orang yang bisa menjadi mangsa empuk bagi bangsa Amalek, yaitu :

1. Orang yang ada di barisan belakang.
Orang yang ada di barisan belakang adalah mereka yang masih suka tersinggung, tidak punya pendirian, mudah putus asa  dan cepat menyerah. Orang-orang yang seperti ini akan menjadi sasaran empuk iblis untuk dikalahkan. Sebab mereka tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi. Bukan hanya itu saja. Orang-orang yang ada di barisan belakang adalah orang-orang yang dahulunya sangat bersemangat dalam melakukan segala macam pekerjaan dan tiba-tiba mundur dan patah semangat ketika tantangan datang menghadang.

2. Orang yang terhuyung-huyung
Mengapa orang menjadi terhuyung-huyung? karena mereka kurang makan. Akibatnya tubuh mereka menjadi lesu tak bertenaga. Ia menjadi bosan dan tidak punya gairah yang bergelora. Dan orang yang terhuyung-huyung akan cepat ambruk tatkala diterjang badai.

Secara rohani, orang yang terhuyung-huyung adalah orang yang kurang makan makanan firman Tuhan. Karena tidak terisi oleh firman Tuhan, maka mereka tidak bisa berjalan dengan baik dan terhuyung-huyung kala dihantam badai persoalan. Jika itu yang sedang kita alami, berhati-hatilah!

3. Orang yang lemah
Orang yang lemah pun menjadi sasaran empuk bagi Amalek. Orang yang lemah selalu merasa tidak mampu dan tidak berdaya. Padahal kita ditetapkan sebagai seorang pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Karena itu kuatkan diri kita. Bangunlah dan jadilah kuat.

4. Orang yang dalam lembah
Orang-orang yang sedang berada dalam lembah sangat memiliki potensi yang besar untuk menerima serangan Amalek. Mereka akan dengan mudah dikalahkan. Karena itu cepat bangkit dan berjalanlah kembali. Maju dan jangan pernah mundur dan berlama-lama tinggal dalam lembah.

Keempat golongan orang tersebut adalah sasaran empuk bangsa Amalek. Lalu sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk mengalahkannya? Ingat, selain sebuah perjalanan, hidup kita adalah peperangan. Kala Yosua berperang melawan Amalek, ia mengalahkannya dengan mata pedang. Ini sangat relevan dengan keadaan kita hari-hari ini. Kita harus belajar menggunakan pedang, yaitu firman Allah sendiri. Kita harus dan wajib hidup di dalam firman Allah.Kita perlu mengerti firman Allah dan sekaligus menjadi pelaku firman dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita bisa mendapatkan kekuatan dan senjata untuk mengalahkan musuh. Karena itu, hari ini bangkitlah dan miliki kemerdekaan yang sesungguhnya di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Bersama Yesus, kita pasti mendapatkan kemenangan demi kemenangan. Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:43 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kuasa Kemerdekaan Dari Kerajaan Allah

(Pdt.Eluzai Frengky Utana,MPM)

“Kitab Ester pasal yang pertama ayat satu sampai delapan menceritakan tentang Raja Ahasyweros yang mengadakan sebuah pesta yang sangat besar. Ia mengadakan perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, kaum bangsawan dan para pembesar daerah. Di samping itu, ia juga memamerkan kekayaan kerajaan dan keindahan kebesarannya selama enam bulan bulan penuh. Dalam jaman itulah, kita melihat kisah perempuan yang luar biasa yaitu Hadasa, yang kita kenal sebagai  Esther.

Esther adalah seorang anak yatim piatu dan ia diangkat anak oleh Mordekhai, salah satu sanak keluarganya. Kita melihat latar belakang kehidupan Esther sebagai anak angkat, pasti sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Bahkan sebagian orang menilai negatif dan mereka memiliki istilah yang kasar yaitu anak pungut. Tetapi di sini kita melihat bahwa Esther tidak terintimidasi dengan statusnya sebagai anak angkat. Ia tidak terpenjara dengan semua itu tetapi ia menunjukkan bahwa ia memiliki kemerdekaan dalam hidupnya. Akhibatnya adalah hidupnya memberikan dampak yang sangat besar bagi seluruh bangsa Israel.

Bagitu juga dengan kehidupan kita. Kita perlu mengalami kemerdekaan. Bukan sekadar kemerdekaan, tetapi kemerdekaan yang kita alami adalah sebuah kemerdekaan yang terus menerus. Karena itu, kita harus mau berubah. Ketika kita mengambil keputusan untuk mau berubah, maka kita akan menjadi seorang pribadi yang kuat. Dan seorang pribadi yang kuat akan melahirkan keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat akan melahirkan gereja yang kuat dan gereja yang kuat akan melahirkan bangsa yang kuat.

Lalu, apa saja yang perlu kita lakukan supaya kita bisa mengalami kemerdekaan yang terus menerus?

1. Jangan membuat pesta sendiri (Ester 1 : 9)
Ketika sang raja membuat pesta yang sangat besar, rupanya sang ratu pun tidak mau kalah. Ia juga mengadakan perjamuan bagi semua perempuan di istana raja. Dan yang terjadi kemudian adalah, ketika raja memanggil dia untuk datang padanya, ratu wasti menolaknya. Akibatnya, raja menjadi sangat marah dan memecatnya sebagai ratu.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ketika kita membuat pesta sendiri, artinya kita tidak mengikuti apa yang Tuhan mau, maka hal itu bisa membuat kita memberontak. Dan tentu saja, hal ini akan merugikan diri sendiri. Dan ketika kita membuat pesta sendiri, maka kita tidak akan mengalami kemerdekaan.

2. Mempunyai kesan yang bernilai (Ester 2 : 8-9)
Ketika banyak gadis dikumpulkan di dalam benteng Susan, dan Ester pun masuk ke dalam istana raja, maka Ester dianggap sangat baik oleh Hegai, pengawas para perempuan. Esther pun menimbulkan kasih sayang sehingga Hegai pun memberikan perawatan yang khusus kepadanya dan memindahkan ke tempat yang terbaik di  dalam balai perempuan.
Mengapa hal ini bisa terjadi? karena Ester dianggap memiliki kesan yang bernilai. Pasti karena tutur katanya manis, sopan dan ia melakukan yang terbaik sehingga ia memiliki suatu inner beauty yang luar biasa. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan kita. Kalau kita memiliki nilai Kerajaan Allah, maka kehidupan kita juga pasti akan mendatangkan berkat bagi banyak orang. Dan ketika kita memiliki nilai, maka segala sumber-sumber akan dibukakan oleh Tuhan.

Karena itu, kita perlu hidup dengan nilai Kerajaan Allah. Jangan pernah mencoba menjadi orang yang sukses, tetapi jadilah orang yang bernilai. Lalu bagaimana supaya kita bisa menjadi orang yang bernilai? yang pasti, kita harus siap menjalani proses.
3. Bersedia untuk dibentuk/diproses (Esther 2 : 12)
Proses yang dijalani Esther tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Dicatat bahwa selama setahun penuh, Esther mendapatkan perawatan yang intensif. Ia diwajibkan menjalani proses pemberian wangi-wangian sehingga nantinya aroma tubuhnya akan berbau harum bagi sang raja.

Begitu pula dengan kehidupan kita. Hidup kita harus membawa keharuman bagi Allah. Hendaklah setiap orang bisa merasakan keharuman yang ada dalam hidup kita. Bukan saja saat kita melayani saja, kita membawa keharuman bagi Allah, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan kita seperti dalam keluarga, pekerjaan, dan lain-lain.

Waktu satu tahun tentu saja bukan masa yang singkat, tetapi Esther taat dalam menjalani prosesnya. Begitu juga dengan kita, ketika kita menjalani proses, maka sepertinya proses itu begitu lama bahkan mungkin kita tidak tahu kapan akan berakhir. Namun ketika kita menjalani setiap proses itu, percayalah bahwa Tuhan pasti akan memberikan kekuatan baru untuk kita. Ingatlah, bahwa dalam setiap masalah dan persoalan, Tuhan selalu memberi jawabannya.

4. Tidak serakah (Ester 2 : 13-15)
Saat setiap perempuan mendapat kesempatan untuk meminta perhiasan apa saja yang diingininya untuk tampil di hadapan raja, maka Esther melakukan hal yang sangat tidak biasa. Ia memilih untuk tidak mengambil dan meminta apapun. Akibatnya, justru ia mendapat kasih sayang dari semua yang melihat dia.

Hal ini juga relevan dengan kehidupan kita. Ketika kita tidak senang melihat orang berhasil, berarti itu sama halnya dengan keserakahan. Atau saat kita merasa terganggu ketika ada orang yang mendapat untung besar dalam bisnis, maka itu juga sama halnya dengan keserakahan.

Biarlah, kita senantiasa hidup dalam kemerdekaan yang terus menerus sehingga hidup kita berdampak bagi orang lain.  Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:41 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Understanding The Kingdom of God

(Pdp.Dr.Ir.Bob Foster,MM)

“Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”

Itulah kutipan dalam Mazmur 8 : 2,4-6. Betapa Tuhan sangat mengasihi manusia. Dari manusia hina, Tuhan mengindahkannya bahkan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Ini adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Itu artinya, Tuhan mejadikan kita sebagai raja-raja kecil di dunia, sedangkan Tuhan Yesus sendiri adalah Raja di atas segala raja.

Karena itu, Allah mau supaya sebagai raja-raja yang telah ditetapkan-Nya ini kita hidup dalam suatu kerajaan, yaitu Kerajaan Allah. Kerajaan dimana pemerintahan Tuhan itu hidup dalam dinamika kehidupan kita. Karena itu dalam Matius 4: 17 dengan jelas Yesus mengajak kita untuk melakukan sesuatu, “Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Dari kutipan ayat dalam Mazmur tadi, kita melihat bahwa Allah telah memahkotai kita dengan 2 hal, yaitu :

1. Kemuliaan
Banyak orang yang berpikir dan mengartikan bahwa kemuliaan sama dengan cahaya atau bahkan ada yang menyamakan dengan tepuk tangan bagi Tuhan. Tetapi kemuliaan yang sesungguhnya adalah bagaimana bobot / nilai kehidupan kita. Karena kita membawa image Ilahi dalam kehidupan kita. Sehingga apapun yang menjadi langkah kehidupan kita, akan dilihat oleh banyak orang. Karena itu kita perlu hidup sesuai dengan pola Kerajaan Allah.

2. Hormat
Kehormatan disini juga berbicara tentang sikap. Seberapa besar kita melakukan tanggung jawab atau kepercayaan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Setidaknya ada tiga hal yang dipercayakan kepada kita, yaitu pekerjaan, firman Tuhan dan keluarga.

Dalam pekerjaan, banyak orang yang menganggapnya sebagai kutuk karena mereka harus bersusah payah untuk mendapatkan uang. Tetapi sebetulnya demikian. Tuhan mempercayakan pekerjaan kepada kita supaya menggunakan talenta yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Bekerja adalah suatu tempat dimana kita mengekspresikan talenta dan kemampuan kita. Jadi kita bekerja bukan semata-mata untuk uang. Jika kita bekerja dengan mengerti prinsip bahwa kita bekerja untuk mengekpresikan talenta dan memberikan yang terbaik bagi Tuhan, maka Tuhanlah yang akan memberkati kita dengan berkat-Nya yang luar biasa.

Selain pekerjaan, Allah juga mempercayakan firman Tuhan kepada kita. Dan firman itu harus kita pelihara dalam hidup kita. Kita perlu hidup sesuai dengan kebenaran yang telah kita terima. Sehingga kita pun juga dituntut untuk bertanggung jawab di dalam melakukan segala isi dari firman Tuhan. Selain itu, kita juga perlu mengetahui dan mempelajari setiap firman Tuhan karena dengan serius Allah mengingatkan bahwa umat Tuhan bisa binasa karena kurang pengetahuan akan firman Tuhan.

Dalam keluarga pun, kita perlu bertanggung jawab. Kita wajib mengasihi suami, isteri dan anak-anak. Keluarga adalah wadah dimana kita bisa membina generasi yang akan datang. Karena anak-anak yang ada di rumah kita adalah jemaat mula-mula yang perlu belajar tentang pola hidup keluarga dalam Kerajaan Allah.

Jadi, ketiga hal yang sudah dipercayakan kepada kita ini harus diikat dalam satu bentuk penyembahan kita kepada Tuhan. Penyembahan bukan hanya dalam arti sempit saja, seperti saat kita berada di gereja dan menaikkan pujian dan penyembahan bagi Tuhan tetapi yang terpenting, adalah sikap hati kita kepada Tuhan. Penyembahan yang sejati kita berikan kepada Tuhan karena ketaatan kita kepada Tuhan.

Selain pekerjaan, firman Tuhan dan keluarga, Tuhan juga memberikan hal yang lain kepada kita, yaitu KUASA! Ada dua jenis kuasa yaitu kuasa yang membangun kehidupan orang lain atau justru kuasa yang bisa merusak. Tetapi tentu saja kuasa yang Tuhan ingin kita lakukan adalah untuk membangun kehidupan orang lain dan kita pun hidup di dalamnya.

Roma 14 : 17-18 menegaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Kebenaran disini adalah kemampuan untuk hidup berkenan kepada Allah. Sementara damai sejahtera adalah kemampuan kita untuk membangun hubungan yang damai dengan orang lain walaupun apapun keadaannya ata dalam kondisi apapun. Dan untuk memiliki kemampuan ini, kita membutuhkan Roh Kudus dalam hidup kita. Sementara itu, sukacita adalah kemampuan untuk hidup bersyukur dalam segala situasi. Dan Tuhan menegaskan bahwa barang siapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan kepada Allah dan dihormati manusia.

Jadi sekarang, apa pilihan dan keputusan kita. Apakah kita mengambil keputusan untuk mencari dahulu Kerajaan Alah dan kebenaran-Nya? Jika itu yang menjadi keputusan kita, maka Allah akan menambahkan segala sesuatunya dalam hidup kita. Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:39 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kuasa Komunikasi Kerajaan Allah

(Pdt.Eluzai Frengky Utana,MPM)

Ketika Paulus dan Silas berada di Filipi, mereka dianggap telah merugikan para penenung karena Paulus dan Silas telah mengusir roh jahat dari mereka. Akibatnya, mereka dihukum dan dimasukkan dalam penjara. “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.” (Kisah Rasul 16:23-26)

Kita melihat apa yang bisa terjadi ketika Paulus dan Silas berdoa, yaitu gempa bumi terjadi dan terlepaslah belenggu mereka. Betapa dahsyatnya peristiwa ini. Karena doa, sesuatu yang luar biasa terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi? karena ketika kita berdoa, kita sedang berkomunikasi dengan pemilik Kerajaan Allah, yaitu Yesus Kristus Tuhan. Dan ketika kita menaikkan pujian, hal ini identik juga dengan kita berdoa kepada Tuhan.

Dalam Kerajaan Allah, ada pola komunikasi yang terjadi antara kita, anak-anak Tuhan dan Allah Bapa kita. Kita bisa melihat dalam Wahyu 8:3-5. “Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.”
Itulah kedahsyatan kuasa komunikasi dengan Allah. Ketika kita berdoa, maka malaikat menjadi sibuk untuk menerima, melayani, menjawab doa kita dan mukjizat terjadi. Itulah esensi/inti dari pola komunikasi Kerajaan Allah. Lalu, apa saja kunci komunikasi yang bisa mendatangkan Kuasa Kerajaan Allah?

1. Mendirikan Mezbah
Kalau kita melihat dalam Kejadian 8:20 dan Keluaran 20:1-9, kita akan menemukan teladan bahwa Nuh dan Musa membangun mezbah bagi Tuhan. Sama halnya dengan hidup kita saat ini. Tuhan mau supaya kita membangun mezbah bagi Tuhan. Ketika kita membangun mezbah dan menaikkan doa, maka itu akan seperti asap yang naik ke atas dan malaikat akan mempersembahkan kepada Allah dan malaikat juga akan memberi api sebelum ia melemparkannya ke bumi. Api disini bisa berarti masalah. Ketika kita berdoa, seringkali kita juga akan mendapatkan masalah. Tetapi kita tidak perlu takut karena masalah itu dipakai Tuhan untuk memproses kehidupan kita, dan mematikan ke’aku’an kita. Ketika ke’aku’an kita mati maka mukjizat terjadi. Hidup kia harus dibangun, berakar dan dibentuk dalam Kristus melalui proses.

Ketika kita membangun, mezbah apa saja yang perlu kita bangun? Yang pertama adalah mezbah pribadi (Daniel 6:10). Mezbah ini berbicara tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Tuhan mau supaya kita memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan. Mezbah yang kedua adalah mezbah keluarga (Yosua 24:15). Setiap keluarga hendaklah memiliki mezbah dengan Tuhan. Ketika Tuhan hadir dalam keluarga kita, maka keluarga kita pun akan diberkati dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Sedangkan mezbah yang ketiga adalah mezbah komunitas. Mezbah ini bisa berarti kita berdoa dalam kelompok gereja maupun kota.

Tuhan mau supaya kita mendirikan mezbah-mezbah tersebut dalam hidup kita. dan ketika masalah datang, kita percaya bahwa setiap masalah itu selalu ada solusinya. Dan kita tahu bahwa itulah salah satu cara Tuhan memproses kehidupan kita.
2. Mengenakan Pakaian
Pakaian berbicara tentang karakter dalam hidup kita. Talenta dan karunia diberikan oleh Tuhan supaya kita dipromosikan di dunia tetapi karakter akan membuat kita tetap berdiri di atas kebenaran. Nah, pakaian apa saja yang perlu kita pakai?
a. Percaya bahwa Tuhan memakai kita untuk melakukan perkara-perkara besar (Fiilipi 4:13)
Ingatlah, bahwa seorang pemenang bukanlah seorang yang tidak pernah gagal tetapi orang yang tidak berhenti mencoba. Karena itu apapun yang menjadi persoalan dan masalah kita, jangan pernah menyerah dan putus asa. Sebab kita dipakai Tuhan untuk melakukan perkara-perkara besar, bukan perkara-perkara kecil saja.

b. Pakaian keselamatan dan kebenaran (Yesaya 41:10)
Keselamatan kita dapatkan ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, kita juga wajib menerima seluruh kebenaran-Nya dan hidup dalam kebenaran Tuhan. Ada satu rahasia besar yang perlu kita ketahui, “yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” (Kolose 1:26-27). Tentu saja ini kita patut mengucap syukur karena kita memiliki Yesus dalam hidup kita dan kita hidup dalam Dia.

c. Pakaian kekudusan dan memiliki gaya hidup kesukaan dalam Tuhan (Wahyu 7:9)
Pakaian kekudusan berarti kita tidak lagi hidup dengan cara dan gaya hidup duniawi, tidak terpengaruh dengan cara-cara yang tidak berkenan kepada Tuhan. Sedangkan gaya hidup yang penuh kesukaan adalah kita menikmati hidup dengan sukacita. Apapun yang terjadi, masalah apapun yang kita hadapi, enjoy your life! dan kita akan melihat bahwa tidak ada yang tidak dapat terjadi melalui Kingdom Communication. Ingatlah, segala sesuatu ada jawabannya karena Yesus adalah segala-galanya!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:37 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Gaya Hidup Penuh Pengharapan

(Pdp.Dr.Ir.Bob Foster,MM)

Hari-hari ini, banyak orang mengeluh karena harga-harga kebutuhan hidup yang melambung tinggi. Belum lagi masalah-masalah pergumulan hidup yang menghimpit kehidupan sehingga hidup terasa makin sulit. Menghadapi situasi seperti ini, kepada siapa kita harus berharap? Banyak orang yang memberikan janji-janji pada kita tetapi betapa kita akan menjadi kecewa karena mereka kemudian tidak menepati janji. Tetapi ada kabar baik untuk kita karena hanya janji Tuhan saja yang bisa kita pegang dengan teguh. Bahkan Rasul Paulus menegaskan supaya kita memiliki pengharapan yang pasti…”Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya…” (Ibrani 6 : 11).

Lalu, bagaimana supaya kita bisa memiliki gaya hidup yang penuh pengharapan di dalam Tuhan?
1. Menjadi prisoners of hope/tawanan pengharapan (Zakaria 9 : 12)
Apa yang dimaksud dengan prisoners of hope? yaitu suatu kondisi dimana kita hanya dan tetap berharap pada Tuhan dalam segala situasi apapun. Ketika kita menghadapi masalah dan pergumulan hidup, biarlah kita menjadi tawanan pengharapan, yang selalu berharap kepada Tuhan dan bukannya menjadi tawanan situasi, yang melihat keadaan dan bisa mematahkan iman dan harap kita.

Kita perlu mengerti bahwa pengharapan kita kepada Tuhan tidak akan mengecewakan. Banyak orang yang mengatakan mereka percaya dan berharap kepada Tuhan tetapi mereka tetap tidak mendapatkan pertolongan dan jawaban dari setiap persoalan mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka hanya fokus pada situasi dan kondisi mereka. Mereka berharap Tuhan merubah kondisi dan situasi buruk yang mereka alami. Padahal, ketika kita berharap kepada Tuhan, maka apapun yang akan terjadi, meskipun keadaan tidak berubah sekalipun kita percaya bahwa Tuhan tetap melindungi dan menjaga seluruh kehidupan kita. Sehingga beban yang kita tanggung pun kita tanggung bersama Yesus yang memberi kita kekuatan. Dan itiulah yang terbaik bagi kita.

Tuhan mau supaya hidup kita menjadi berkat bagi orang lain, berdampak dan memuliakan Dia. Karena itu Tuhan mau supaya kita selalu mengatakan yang positif. Saat menghadapi tantangan dan pergumulan hidup, kita tidak membutuhkan perkataan negatif. Karena perkataan negatif bisa melemahkan kita tetapi perkataan yang positif membangun semangat dan iman kita untuk bangkit dan menghadapi semua tantangan bersama dengan Tuhan.

2. Bersukacita dalam pengharapan (Roma 12 : 12)
Ketika kita berharap kepada Tuhan, maka kita wajib untuk selalu bersukacita. Sebab itulah respon yang benar dan seharusnya kita lakukan. Sebab ketika kita bersungut-sungut, itu sama dengan kita merespon yang salah. Dan respon yang salah akan mendatangkan bencana bagi kita.

Seperti Yusuf, ketika ia menghadapi tantangan dan pergumulan yang berat, ia selalu bersandar dan berharap pada Tuhan. Hasilnya, ia melihat perkara-perkara besar dinyatakan dalam hidupnya. Tuhan memulihkan dan mempromosikan dia dengan luar biasa. Sementara Simson, ketika menghadapi tantangan dan persoalan, maka ia tidak merespon dengan benar dan akibatnya, ia mengalami kematian yang tragis.

Ketika kita melakukan apa yang menjadi bagian kita, maka Tuhan akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya. Tuhan akan mempromosikan kita dan membuat kita pulih. Tuhan kita adalah setia dan pasti akan melakukan perkara-perkara yang dahsyat bagi kita.

3. Pengharapan harus diikuti oleh tindakan yang penuh keberanian (2 Korintus 3 : 12).
Ketika kita menaruh pengharapan kita kepada Tuhan, maka kita pun perlu melangkah dengan iman. Abraham misalnya, ketika Allah menyuruh dia melihat bintang-bintang dan seperti itulah keturunannya kelak, maka Abraham pun melangkah dengan imannya. Begitu pula saat Allah menyuruh Abraham keluar menuju tanah perjanjian, meskipun ia belum melihat tetapi Abraham percaya dan melangkah dengan penuh keberanian. Mengambil segala risiko untuk menggenapi janji Tuhan dalam hidupnya.

Ketika kita melangkah dan bertindak dengan penuh keberanian, Tuhan melihat iman dan hati kita yang percaya kepada-Nya. Dan tentu saja ketika kita harus melangkah dengan iman, hal ini tidaklah mudah tetapi kita percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan kekuaan baru buat kita. Dan Tuhan akan menghargai setiap usaha dan perjuangan kita.

4. Jangan pernah menyerah (Roma 8 : 35-37)
Saat menghadapi tantangan dan pergumulan hidup, banyak orang yang menyerah kalah. Tetapi kita perlu tahu dan percaya bahwa dalam semuanya kita lebih daripada orang-orang yang menang (Roma 8 : 37). Allah memberi kita kemenangan demi kemenangan bagi kita yang percaya kepada Dia.

Namun kenyataannya, banyak orang yang menjadi cengeng ketika menghadapi tantangan. Bukan saja cengeng tetapi putus asa. Padahal dalam setiap persoalan yang kita hadapi, kita bisa bertemu Tuhan dan mendapatkan bagian kita yaitu kemenangan. Karena di dalam setiap persoalan, selalu ada solusinya.

Roma 8:35 dengan jelas menegaskan, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”

Jika kita memahami betul ayat tersebut, maka kita tidak akan pernah menyerah dan putus asa. Sebab kita yakin bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan yang besar dan dahsyat dalam hidup kita. Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:33 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kingdom of Grace

(Pdt.Ir.Timotius Arifin T.,DPM)

Kita pasti sudah sering membaca kisah perumpamaan tentang anak yang hilang yang terdapat dalam Lukas 15 : 11-32. Dimana ada tiga orang yang menjadi tokoh utama, yaitu Bapa, anak sulung dan anak bungsu. Kita juga pasti mengetahui apa yang terjadi diantara mereka. Si bungsu yang meminta bagian warisan dari ayahnya dan ia pergi dan menghabiskan seluruh hartanya dengan para pelacur. Dan ketika hartanya telah habis, ia pun mulai melarat bahkan sampai-sampai ia tidak bisa makan dan minum. Yang lebih parah lagi, meminta ampas makanan babi pun, ia tidak diperbolehkan. Ketika dalam kejatuhan yang mendalam, kemudian ia teringat kepada ayahnya. Ia tahu begitu banyak pekerja ayahnya yang terpelihara dengan baik hidupnya. Karena itu ia pun mulai berpikir untuk pulang ke rumah sang ayah. Meskipun ia akan menjadi pegawai ayahnya pun, itu sudah cukup baginya.

Sementara itu, melihat anak bungsunya kembali, si ayah langsung pergi keluar dan menyambutnya, memeluk dan mencium anaknya yang mungkin saat itu sedang bau sekali. Pergi ke luar disini maksudnya adalah sang ayah pergi ke pintu gerbang kota dan menjumpai anaknya. Karena budaya jaman itu, seorang anak yang telah berbuat kurang ajar kepada orang tua, pasti akan mendapat hukuman dan dirajam batu. Tetapi karena ayahnya begitu mengasihi sang anak, maka ia segera lari menjumpai anaknya dan melindunginya dari ancaman orang-orang yang ada di situ. Setelah anaknya terlindungi, ia segera membawanya pulang, memberikan sandal (yang berarti sonship, hubungan yang dipulihkan antara ayah dan anak), cincin (yang berarti otoritas), jubah yang baru dan menyuruh menyembelih lembu tambun (kebenaran) dan sang ayah membuatkan pesta yang meriah untuk menyambut kepulangan anak bungsunya. Kita melihat hati bapa yang luar biasa. Dengan penuh belas kasihan, ia menerima kembali anaknya yang telah berdosa dan terhilang.

Sementara itu, ketika sang kakak melihat pesta itu, hatinya menjadi panas dan amarahnya memuncak. Ia segera mendatangi sang ayah dan mulai meluapkan amarahnya dan menuding si ayah tidak adil padanya. Ia merasa tidak berlaku jahat seperti adiknya dan ayahnya tidak pernah membuatkan pesta untuknya tetapi kali ini amarahnya benar-benar memuncak. Dan kita melihat bagaimana reaksi sang ayah. Ia memberikan pernyataan yang mengejutkan dan dengan lembut ia mengatakan jika setiap apa yang menjadi miliknya adalah kepunyaan si sulung juga dan mereka seharusnya bersukacita dan bergembira karena adiknya yang terhilang telah kembali.

Dari kisah ini, kita melihat ada dua golongan orang berdosa. Golongan yang satu, adalah orang yang berdosa dengan terang-terangan (si bungsu). Sementara golongan kedua adalah orang berdosa yang tersembunyi (si sulung). Selama ini kita diajarkan kalau si bungsulah yang berdosa padahal dua-duanya berdosa. Dan kalau kita melihat dalam Ulangan 21 : 18-21, anak-anak yang degil dan berdosa terhadap orang tua haruslah dihukum mati.

Saudaraku, kalau hari ini kita hidup dalam keadilan Tuhan, kita pasti akan mati karena kita telah berdosa. Tetapi kita hidup hari ini karena anugerah Tuhan, itulah yang membuat kita tetap hidup. Dan di dalam Tuhan, kita mendapatkan kasih, anugerah dan rahmat yang besar. Tuhan memberikan anugerah/grace, tanpa syarat apapun. Dan seperti anak bungsu itu, setelah ia kembali kepada ayahnya dan ia diterima kembali sebagai anak, maka akhirnya ia tahu apa artinya kasih karunia.

Sementara itu, kita melihat kehidupan sang kakak. Mengapa ia tidak datang kepada adiknya saat adiknya pergi dan saat kehidupan adiknya menjadi sangat sulit dan menyedihkan? karena sang kakak merasa tidak peduli dengan adiknya. Ia menjadi begitu egois sampai ia lupa dengan statusnya sendiri karena ia berkata ia melayani Bapa (seperti sebagai budak). Si sulung itu juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya, sehingga ia bisa marah dan menyakiti hati ayahnya. Selain itu, ia juga tidak tahu berterima kasih. Ia tidak pernah besyukur dengan segala apa yang telah diterimanya dan ia tidak suka melihat adiknya mendapat berkat.

Seharusnya, sebagai seorang kakak, ia merasa senang karena adiknya yang terhilang telah kembali dan ia ikut bergembira bersama ayah dan seisi rumahnya. Hal ini sama dengan kehidupan kita hari-hari ini. Berapa banyak diantara kita yang tidak suka melihat orang lain diberkati, lebih sukses dari kita dan dipakai Tuhan lebih dari kita. Sehingga kita menjadi marah dan berlaku seperti si sulung. Tetapi hari ini, Tuhan mengingatkan kita supaya kita juga bertobat dan kembali kepada pelukan kasih Bapa.

Raja Salomo menulis dengan jelas dalam Amsal 17:17. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Di sini kita melihat bahwa salah satu fungsi seorang saudara adalah saat dalam kesukaran. Saat adiknya mengalami kesukaran, maka sang kakak wajib menolong dan menopang adiknya.

Hari-hari ini, dunia di sekitar kita membutuhkan pelayanan seorang bapa. Karena seorang ayah bisa memberikan apa tidak bisa diberikan oleh orang lain. Seorang ayah bisa memberikan rasa aman, arahan/tuntunan, teladan, inspirasi dan identitas kepada anak-anaknya.

Selain itu, dunia ini juga membutuhkan pelayanan  seorang kakak. Kakak yang bisa mendukung dan menopang saudaranya dalam setiap kesukaran dan memberikan kasih dan penerimaan. Dan itulah yang menjadi bagian dan tanggung jawab kita. Kita bisa melayani mereka dan berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Sehingga orang bisa melihat bahwa dalam rumah Tuhan mereka menemukan Love (kasih), Grace (anugerah) dan Mercy (rahmat). Dan kita bisa menyatakan kepada dunia sebagai duta-duta Allah di dunia ini. Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Punya Masalah? Jawabannya adalah TUHAN!

(Pdt.Eluzai Frengky Utana,MPM)

Hari-hari ini kita memiliki masalah global yang bagi kebanyakan orang membuat hidup menjadi lebih sulit. Seperti kenaikan BBM yang hari-hari ini menjadi masalah global yang juga berdampak besar bagi kehidupan kita. Tetapi hari ini, ada kabar baik yaitu apapun masalah yang kita hadapi maka semua ada jalan keluarnya di dalam Tuhan.

Dalam I Samuel 17 : 1-11 bercerita tentang kisah heroik bagaimana Daud berhadapan dengan Goliat. Bangsa Israel menghadapi masalah dan tantangan besar, dan mereka harus menghadapinya. Dalam kehidupan kita hari-hari ini juga sama. Goliat bisa berarti masalah-masalah yang sedang kita hadapi. Apakah itu masalah keuangan, bisnis, kesehatan, keluarga dan lain-lain. Tetapi seperti Daud mengalahkan Goiat, maka kita pun pasti bisa mengalahkan setiap masalah yang ada di depan kita.

Lalu bagaimana caranya supaya kita menang menghadapi Goliat (masalah/persoalan) kita hari-hari ini? Setidaknya ada 5 M yang perlu kita lakukan, yaitu :

1. Menyertakan Tuhan dalam segala perkara untuk mempermuliakan Tuhan (I Samuel 17:1-11)
Selama berhadapan dengan bangsa Filistin, bangsa Israel hanya pergi untuk berbaris di pagi hari dan kembali pulang di waktu malam. Mereka hanya melakukan itu selama 40 hari. Peperangan seperti apakah ini? Tuhan menghendaki supaya kita setiap apa yang kita pikirkan, mari kita memikirkan apa yang Tuhan mau. Apa yang kita lakukan, lakukan apa yang Tuhan mau dan mari kita menyertakan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita untuk mempermuliakan Tuhan.

Kita telah mengerti bahwa Tuhan sudah memberikan kepada kita kuasa untuk menguasai bumi. Jadi, masalah apapun yang kita hadapi, kita percaya bahwa bahwa segala sesuatu ada jawabannya. Ketika kita menyertakan Tuhan dalam segala hal dan apa yang kita kerjakan untuk kemuliaan Tuhan, maka kita akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Percaya itu!

2. Mempercayakan kepada Tuhan karena kuasa-Nya tidak pernah berubah
Ketika Daud menghadapi Goliat, ia memiliki kepercayaan yang luar biasa. Kalau singa saja pernah dikalahkannya, maka kali ini Goliat pun pasti akan kalah di tangannya. Ia percaya bahwa Allah senantiasa memberikan kemenangan demi kemenangan dan Daud juga sangat percaya bahwa kuasa Tuhan tidak pernah berubah dalam hidupnya.

Hal ini juga sama dengan keadaan kita hari-hari ini. Kita sering melupakan apa yang Tuhan pernah perbuat dalam hidup kita. Mungkin, dulu kita pernah sakit dan Tuhan memberikan kesembuhan. Atau mungkin dulu kita merasa terjepit, terbelenggu dengan persoalan dan tidak mendapat pertolongan. Tetapi justru dalam segala persoalan itulah Tuhan datang dan memberikan pertolongan, kesembuhan, pemulihan dan lain-lain. Apakah kita lantas melupakannya begitu saja? Dan kita menjadi kehilangan pengharapan ketika menghadapi persoalan di masa kini? Satu hal yang perlu kita ingat adalah kalau dulu Allah pernah menolong kita, maka hari ini pun Tuhan sanggup menolong kita.

Namun kita seringkali malas melakukan prinsip firman Tuhan. Padahal setiap orang yang melakukan prinsip firman Tuhan maka ada berkat didalamya. Apalagi karena kita memiliki pribadi Yesus yang berkuasa. Pasti berkat melimpah menjadi bagian kita. Tetapi tidak cukup dengan percaya saja, tetapi bertindaklah!

Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu pro aktif dalam melakukan bagian kita untuk memuliakan Tuhan. Seperti saat BBM naik misalnya. Kita perlu bekerja lebih tekun, jangan mengeluh dan carilah hikmat Tuhan. Maka BBM akan berubah menjadi Berkat Bapa Melimpah (BBM)

3. Menolak memakai pakaian / senjata orang lain (I Samuel 17 : 38-39)
Ketika Daud diminta untuk mengenakan pakaian untuk berperang, ia menolaknya. Ia tahu bahwa pakaian itu tidak akan membuatnya menjadi efektif saat menghadapi pertempuran. Tuhan punya rencana tersendiri bagi kehidupan kita sehingga kita tidak perlu memakai cara orang lain. Karena ketika kita memakai cara orang lain, akhirnya kita akan menjadi kecewa dan  tersinggung. Jadilah seperti apa yang Tuhan mau dalam hidup kita. Kita perlu berlatih dan pasti perkara-perkara besar terjadi. Percayalah bahwa Tuhan punya rencana besar dalam hidup kita.

4. Menyerahkan kepada Tuhan dari hal kecil dengan Tuhan menjadi dahsyat (I Samuel 17 : 40)
Apapun yang kita anggap kecil, Tuhan bisa mengubahnya menjadi besar. Dalam hidup kita, pasti kita memiliki sesuatu, dan ketika kita menyerahkannya kepada Tuhan, maka pasti akan mendatangkan berkat. Namun seringkali banyak orang yang berpikir bahwa kalau nanti usahanya berhasil, mereka akan melayani Tuhan. Dan disini kita perlu berhati-hati sebab kalau itu yang kita pikirkan maka justru kita tidak akan pernah berhasil.

5. Mengerjakan segala sesuatu sampai tuntas bersama Tuhan. (I Samuel 17 : 51)
Saat Goliat sudah mati, orang Filistin masih ada di situ. Dan Daud mencabut pedangnya dan membunuh Goliat. Dari sini kita melihat bahwa Tuhan mau supaya kita mengerjakan segala sesuatu sampai tuntas. Tuhan mau supaya kita memulai bersama dengan Tuhan dan berjalan dalam proses yang membawa kita kepada kemenangan demi kemenangan bersama dengan Tuhan.

Untuk itu, marilah kita senantiasa mengerti dan sadar tentang pangilan kita sebagai perwakilan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Bukan melarikan diri dari masalah tetapi justru lari mendekat kepada Tuhan. Sebab di dalam Tuhan Yesus, semua masalah ada jawabannya. Dan kabar baiknya adalah Dia mau menolong kita. Dia mampu melakukan perkara-perkara yang besar dan ajaib dalam hidup kita. Dan ketika kita melakukan apa yang menjadi bagian kita, maka Tuhan akan melakukan bagian-Nya. Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Jebakan-Jebakan Penghalang Terobosan

(Pdt.Eluzai Frengky Utana,MPM)

Untuk mengalami terobosan bukan bicara tentang jumlah tetapi kualitas hidup kita. Kalau kita melihat dalam Yohanes 4 : 39-41, kita akan melihat kisah seorang wanita Samaria yang menjadi percaya kepada Tuhan. “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya.  Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya”

Dari ayat tersebut kita bisa melihat bahwa dari satu wanita ini, ia bisa mempengaruhi sebuah kota. dari kesaksiannya, orang bisa datang kepada Yesus. Tuhan mau kita mengalami terobosan dan berpengaruhi bagi kota. Kota disini juga bisa berbicara tentang keluarga, pekerjaan, pelayanan, bisnis dan lain-lain. Untuk itu, seperti wanita Samaria yang punya masa lalu yang buruk, kita pun jangan pernah melihat dan memikirkan masa lalu kita. Ingat, Tuhan mau kita mengalami terobosan dalam hidup kita.

Mengapa Tuhan mau supaya kita mengalami terobosan? Kita bisa melihat dalam Yohanes 15:8, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Dari sini kita melihat bahwa ketika kita mengalami terobosan maka Tuhan akan dipermuliakan.

Nah, seringkali mengapa kita tidak bisa mengalami terobosan? karena kita terjebak dalam hal-hal yang membuat kita terperangkap dan tidak bisa mengalami terobosan. Nah, jebakan-jebakan apa saja yang perlu kita waspadai?

1. Jebakan Sukuisme
“Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)” (Yohanes 4 :9)

Dari sini kita melihat bahwa adanya perbedaan suku yang menyebabkan orang saling tidak berhubungan. Dan kalau kita masih melihat sukuisme, maka kita tidak akan melihat terobosan. Ketika kita merasa lebih dari suku lainnya, juga jangan pernah mimpi supaya kita mengalami terobosan. Tetapi hal ini tidak hanya bicara soal sukuisme saja tetapi juga berbicara tentang gereja. Misalnya ada orang yang terlalu bangga dengan gerejanya dan merasa gerejanya adalah yang terbaik dari gereja lainnya. Atau merasa hamba Tuhan yang melayani lebih baik dari yang lainnya. Ingat, ketika kita meninggikan Tuhan maka orang akan datang kepada Tuhan. Jadi jangan pernah lagi memandang sukuisme, karena kita semua diciptakan istimewa di hadapan Tuhan. Dan ingat, bahwa Tuhan bisa membuat apa saja dalam hidup kita.

2. Jebakan Cara Berpikir yang Berpusat pada diri Sendiri
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” (Yohanes 4 : 11-12)

Ketika kita mau melihat terobosan, kita harus membebaskan hati kita dan hanya berpusat pada apa yang Tuhan mau. Tetapi seringkali kita berjalan dan berusaha dengan cara pikir kita sendiri. Satu hal yang perlu kita ingat adalah kita punya potensi yang luar biasa dalam Yesus. Kalau kita melakukan apa yang menjadi bagian kita maka Tuhan akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya.

3. Jebakan Hidup Yang Berdasarkan Nafsu                                                                                                                                    Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” (Yohanes 4 :16-18)

Kita melihat bahwa wanita Samaria itu berkata benar tentang keadaan yang sebenarnya. Kalau kita hidup dalam kebenaran maka ada berkat yang akan menjadi bagian kita. Sekalipun mungkin banyak orang akan mengejek dan memfitnah kita tetapi kita wajib untuk tetap mengasihi mereka. Sebab itulah yang Tuhan mau supaya kita hidup dalam kasih.

Jika kita hidup mementingkan diri sendiri berarti kita juga masih hidup di dalam nafsu. Jadi apapun yang kita kerjakan, marilah kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, dengan menggunakan cara Tuhan dan kekuatan Tuhan.

4. Jebakan Agamawi
“Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. (Yohanes 4 : 20-22)

Banyak orang yang terbiasa dengan tata cara ibadah, sehingga lupa pada sesuatu yang mendasar dalam ibadah yaitu kita mau berjumpa dengan Tuhan dan menyembah Dia. Ada banyak orang juga yang merasakan jika dalam suatu ibadah dan mereka tidak merasakan tanda-tanda dan mukjizat maka mereka merasa tidak mendapatkan apa-apa.

Karena itu, setiap kita perlu berhati-hati dengan jebakan-jebakan yang ada. Percayalah bahwa Tuhan sanggup menolong kita sehingga kita mengalami suatu terobosan yang besar dalam hidup kita. Amin!

Published in: on Desember 5, 2008 at 2:26 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.